Bilal bin Rabbah, sahabat Rasulullah SAW berkulit hitam namun berhati
putih mempunyai banyak kenangan tersendiri pada lelaki mulia yang
menjadi nabinya. Kenangan itu berkerak dan melekat dalam diri Bilal ra.
sampai jauh setelah Rasulullah SAW wafat. Agar tak terkoyak moyak
hatinya, Bilal ra. memutuskan untuk tak lagi adzan sepeninggal
Rasulullah SAW. Sampai suatu ketika, rindu Bilal ra. tak tertahankan.
Ia pun mengumandangkan adzan.
Kisah itu diawali dengan cerita
Bilal ra. tentang mimpinya semalam. Lelaki asal Ethiopia itu, suatu
malam bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya, Bilal bertemu dengan
Rasulullah SAW. “Bilal, betapa rindu aku padamu,” kata Rasulullah SAW
dalam mimpi Bilal.
Satu orang mendengar cerita Bilal ra. Tak
berapa lama, orang pertama menceritakan mimpi Bilal ra. pada orang
kedua. Orang keduapun bercerita pada orang ketiga, keempat, kelima dan
seterusnya. Menjelang sore, nyaris seluruh penduduk kota Madinah, kota
yang sudah lama ditinggalkannya, tahu tentang mimpinya itu. Maka
bersepakat penduduk Madinah, meminta Bilal ra. untuk adzan di masjid
Rasulullah saat waktu shalat maghrib tiba.
Tak kuasa Bilal
menolak keinginan sahabat-sahabatnya. Senja merah, angin sepoi dan
langit bersih dari mega. Bilal mengumandangkan adzan. Penduduk Madinah
tercekam kerinduan. Rasa dalam dada membuncah, detik-detik bersama
Rasulullah, manusia tercinta terbayang kembali di pelupuk mata.
Akhirnya, penduduk Madinah pun menitikkan air mata rindunya. Dan Bilal
ra, tentu saja ia diharu biru rindu pada kekasihnya, nabi akhir zaman
itu.
My Life - My Story
Tampilkan postingan dengan label kisah sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah sahabat. Tampilkan semua postingan
Amir yang Selamat dari Adzab Allah Ta'ala
Ditakhrijkan oleh At-Thabrani dari Abu Wail Shaqiq bin Salamah
sesungguhnya Umar bin Khathab ra. telah melantik Bashar bin Asim ra.
untuk memungut zakat penduduk Hawazin. Bashar ra. telah
melewat-lewatkan kepergiannya lalu beliau telah ditemui oleh Umar ra.
dan telah berkata kepadanya, "Apakah yang telah menyebabkanmu
terlambat?". Adakah kamu tidak mendengar dan thaat kepada perintah
kami?". Bashar ra. berkata, "Tidak, melainkan aku telah mendengar
Rasulullah SAW bersabda,
"Barang siapa yang menjadi ketua bagi sesuatu urusan kaum Muslimin, maka ia akan datang pada hari kiamat sehingga ia akan berdiri di atas sebuah jembatan Neraka. Jika ia telah melakukan kebaikan, ia akan selamat. Jika telah melakukan kejahatan, jembatan itu akan runtuh lalu ia akan terjatuh ke dalam api Neraka tersebut selama tujuh puluh tahun".
Abu Dzar ra. telah berkata kepada Umar ra. "Adakah kamu telah mendengar sesuatu dari Rasulullah SAW?" Umar ra. pun menjawab. "Tidak". Abu Dzar ra. berkata, "Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,
'Barangsiapa yang bertanggungjawab ke atas urusan kaum Muslimin, ia akan datang pada hari kiamat sehingga ia akan berdiri di atas sebuah jembatan neraka. Jika beliau melakukan melakukan kebaikan dalam tanggungjawabnya ia akan selamat. Jika sebaliknya jembatan itu akan rubuh dan ia akan tejatuh ke dalam neraka itu selama tujuh puluh tahun dan Neraka itu amat gelap dan hitam'.
Maka hadis yang mana satukah yang lebih menggetarkan hatimu?". Umar ra. mejawab, "Kedua-duanya. Oleh itu adakah sesiapa yang mau mengambil jabatan Khalifah ini?". Abu Dzar ra. pun berkata, "Hanya orang yang hidungnya telah terpotong dan pipinya telah dilekapkan diatas tanah yang akan mengambil alih jabatan ini. Adapun aku tidak mengetahui melainkan jabatan Khalifah ini baik untuk mu. Karena jika kamu memberikan jabatan Khalifah ini kepada seseorang yang tidak akan berlaku adil, kamu juga akan menanggung dosa bersama dengannya".
Sebagaimana dalam kitab At-Targhib. Ditakhrijkan juga oleh Abdul Razak, Abu Nu'aim Abu Said An-Naqashi, Al-Baghowi dan Ad-Daruqutni dari jalur Sawid sebagaimana dalam kitab Al-Kanz. Ditakhrijkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Mundah dari selain galur Sawid sebagaimana dalam kitab Al-Isobah.
"Barang siapa yang menjadi ketua bagi sesuatu urusan kaum Muslimin, maka ia akan datang pada hari kiamat sehingga ia akan berdiri di atas sebuah jembatan Neraka. Jika ia telah melakukan kebaikan, ia akan selamat. Jika telah melakukan kejahatan, jembatan itu akan runtuh lalu ia akan terjatuh ke dalam api Neraka tersebut selama tujuh puluh tahun".
Abu Dzar ra. telah berkata kepada Umar ra. "Adakah kamu telah mendengar sesuatu dari Rasulullah SAW?" Umar ra. pun menjawab. "Tidak". Abu Dzar ra. berkata, "Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,
'Barangsiapa yang bertanggungjawab ke atas urusan kaum Muslimin, ia akan datang pada hari kiamat sehingga ia akan berdiri di atas sebuah jembatan neraka. Jika beliau melakukan melakukan kebaikan dalam tanggungjawabnya ia akan selamat. Jika sebaliknya jembatan itu akan rubuh dan ia akan tejatuh ke dalam neraka itu selama tujuh puluh tahun dan Neraka itu amat gelap dan hitam'.
Maka hadis yang mana satukah yang lebih menggetarkan hatimu?". Umar ra. mejawab, "Kedua-duanya. Oleh itu adakah sesiapa yang mau mengambil jabatan Khalifah ini?". Abu Dzar ra. pun berkata, "Hanya orang yang hidungnya telah terpotong dan pipinya telah dilekapkan diatas tanah yang akan mengambil alih jabatan ini. Adapun aku tidak mengetahui melainkan jabatan Khalifah ini baik untuk mu. Karena jika kamu memberikan jabatan Khalifah ini kepada seseorang yang tidak akan berlaku adil, kamu juga akan menanggung dosa bersama dengannya".
Sebagaimana dalam kitab At-Targhib. Ditakhrijkan juga oleh Abdul Razak, Abu Nu'aim Abu Said An-Naqashi, Al-Baghowi dan Ad-Daruqutni dari jalur Sawid sebagaimana dalam kitab Al-Kanz. Ditakhrijkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Mundah dari selain galur Sawid sebagaimana dalam kitab Al-Isobah.
Perjuangan IBlis
Sumber : LAKI-LAKI MUSLIM SEJATI ADALAH YANG MENEGAKKAN SHOLAT 5 WAKTU DI MASJID
Masih ingat dengan seorang sahabat Nabi yang tak dapat melihat? Yang karenanya Allah lalu menegur Nabi dan menurunkan surat "A'basa"? Ia adalah Abdullah bin Ummi Maktum Radiallahuanhu. Seorang sosok sahabat yang senantiasa tawadlhu dalam menunaikan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Suatu ketika sahabat Nabi ini menghampiri baginda Rasulullah Saw. Ia hendak meminta izin, untuk tidak mengikuti jama'ah shubuh, karena tak ada yang menuntunnya menuju masjid. Setelah mendengar alasannya, baginda Rasulpun bertanya: "Apakah engkau mendengar adzan?", Abdullah lantas menjawab: "Tentu baginda", "Kalau begitu tidak ada keringanan untukmu", tandas Rasul.
Layaknya hamba Allah yang senantiasa istiqomah dalam menjalankan perintahNya. Abdullahpun sam'an wa tho'atan atas apa yang diperintahkan Rasulullah Saw. Dengan mantap ia berazam untuk mendirikan jama'ah shubuh di masjid,sekalipun dirinya harus meraba-raba dengan tongkat untuk menuju sumber azan.
Keesokan harinya, tatkala fajar menjelang dan azan mulai berkumandang, Abdullah bin Ummi Maktumpun bergegas memenuhi panggilan Ilahi. Tak lama ketika ia mengayunkan kakinya beberapa langkah, tiba-tiba ia tersandung sebuah batu, badannya lalu tersungkur jatuh, dan sebagian ongkahan batu itu tepat mengenai wajahnya, dengan seketika darahpun mengalir dari mukanya yang mulia.
Dengan cepat Abdullah kembali bangkit, sembari mengusap darah yang membasahi wajahnya, iapun dengan mantap akan kembali melanjutkan perjalanan menuju masjid. Selang beberapa saat, datang seorang sosok lelaki tak dikenal menghampirinya, kemudian lelaki itu bertanya: "A'mmu (paman) hendak pergi kemana?". "Saya ingin memenuhi panggilan Ilahi" jawab Abdullah tenang. Lalu laki-laki asing itu menawarkan jasanya, "Saya akan antarkan a'mmu ke masjid, lalu nanti kembali pulang ke rumah". Lelaki itupun segera menuntun Abdullah menuju rumah Allah, dan kemudian mengantarkannya kembali pulang.
Hal ini ternyata tidak hanya sekali dilakukan lelaki asing itu, tiap hari ia selalu menuntun Abdullah ke masjid dan kemudian mengantarkannya kembali ke rumah. Tentu saja Abdullah bin Ummi Maktum sangat gembira, karena ada orang yang dengan baik hati mengantarnya salat berjama'ah, bahkan tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Masih ingat dengan seorang sahabat Nabi yang tak dapat melihat? Yang karenanya Allah lalu menegur Nabi dan menurunkan surat "A'basa"? Ia adalah Abdullah bin Ummi Maktum Radiallahuanhu. Seorang sosok sahabat yang senantiasa tawadlhu dalam menunaikan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Suatu ketika sahabat Nabi ini menghampiri baginda Rasulullah Saw. Ia hendak meminta izin, untuk tidak mengikuti jama'ah shubuh, karena tak ada yang menuntunnya menuju masjid. Setelah mendengar alasannya, baginda Rasulpun bertanya: "Apakah engkau mendengar adzan?", Abdullah lantas menjawab: "Tentu baginda", "Kalau begitu tidak ada keringanan untukmu", tandas Rasul.
Layaknya hamba Allah yang senantiasa istiqomah dalam menjalankan perintahNya. Abdullahpun sam'an wa tho'atan atas apa yang diperintahkan Rasulullah Saw. Dengan mantap ia berazam untuk mendirikan jama'ah shubuh di masjid,sekalipun dirinya harus meraba-raba dengan tongkat untuk menuju sumber azan.
Keesokan harinya, tatkala fajar menjelang dan azan mulai berkumandang, Abdullah bin Ummi Maktumpun bergegas memenuhi panggilan Ilahi. Tak lama ketika ia mengayunkan kakinya beberapa langkah, tiba-tiba ia tersandung sebuah batu, badannya lalu tersungkur jatuh, dan sebagian ongkahan batu itu tepat mengenai wajahnya, dengan seketika darahpun mengalir dari mukanya yang mulia.
Dengan cepat Abdullah kembali bangkit, sembari mengusap darah yang membasahi wajahnya, iapun dengan mantap akan kembali melanjutkan perjalanan menuju masjid. Selang beberapa saat, datang seorang sosok lelaki tak dikenal menghampirinya, kemudian lelaki itu bertanya: "A'mmu (paman) hendak pergi kemana?". "Saya ingin memenuhi panggilan Ilahi" jawab Abdullah tenang. Lalu laki-laki asing itu menawarkan jasanya, "Saya akan antarkan a'mmu ke masjid, lalu nanti kembali pulang ke rumah". Lelaki itupun segera menuntun Abdullah menuju rumah Allah, dan kemudian mengantarkannya kembali pulang.
Hal ini ternyata tidak hanya sekali dilakukan lelaki asing itu, tiap hari ia selalu menuntun Abdullah ke masjid dan kemudian mengantarkannya kembali ke rumah. Tentu saja Abdullah bin Ummi Maktum sangat gembira, karena ada orang yang dengan baik hati mengantarnya salat berjama'ah, bahkan tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Perilaku Abu Ayyub ra. terhadap Nabi SAW. Pesan Baru
Dari Abu Ayyub ra. "Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah. maka
Beliau tinggal di rumah Abu Ayyub ra. Rasulullah SAW tinggal di bagian
bawah sedangkan Abu Ayyub di bagian atas rumah. Ketika malam tiba. Abu
Ayyub tersadar bahwa ia tinggal di atas Nabi SAW berarti dirinya berada
di antara Rasulullah SAW dan wahyu. Hal itu membuat ia susah untuk
tidur. la pun khawatir jikalau ia menggerakkan kakinya dapat
merontohkan debu-debu sehingga menyusahkan Nabi SAW.
Ketika pagi hari tiba maka ia berkata kepada Nabi SAW "Wahai Rasulullah, saya baru tersadar bahwa saya berada diatasmu Dan engkau berada di bawahku. sehingga saya takut bergerak yang menyebabkan jatuhnya debu-debu kepadamu Dan saya pun berada di antara engkau dan wahyu." Jawab Nabi SAW, "Wahai Abu Ayyub jangan kamu berlebihan, maukah aku ajarkan kepadamu suatu ucapan yang jika kamu mengucapkannya setiap pagi dan sore, sebanyak sepuluh kali. maka Allah akan memberikan sepuluh kebaikan. menghapuskan sepuluh dosa dan mengangkatmu sepuluh derajat dan kelak padi hari Kiamat engkau akan digolongkan sebagai seorang yang telah mcmbebaskan sepuluh budak. Ucapan itu ialah:
Laa ilaaha illallaahu wahdahulaa syarikalahu ...
(Thabrani, Kanzul Ummal, 1/294)
Dari Abu Ayyub katanya,"Ketika beliau tinggal di rumahku maka aku berkata kepadanya, "Demi ayah dan ibuku, sesungguhnya daku merasa tidak enak jika tinggal di atasmu dan engkau berada di bawahku." Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya lebih mudah bagi kami untuk tinggal di bawah saja, agar memudahkan kami ketika menerima tamu." (Thabrani)
Suatu ketika tempat airku pecah maka airnya tumpah ke lantai. maka aku bersama istriku (Ummu Ayyub) segera mengeringkanya dengan kain milik kami padahal kami tidak memiliki lagi selimut lain kecuali itu. dengan perasaan takut dan khawatir air tersebut akan mengenai beliau dan menyusahkannva. Dan setiap hari kami menghidangkan makanan bagi Rasulullah SAW dan jika ada sisa dari makanan tersebut maka kami makan pada bagian bekas-bekas tangan Rasulullah SAW agar kami mendapat berkat dengan hal itu.
Pada suatu malam ketika kami hidangkan makan malam. kami bubuhkan di dalam masakan tersebut bawang. Beliau mengembalikannya kepada kami. Dan kami melihat tidak ada sedikit pun bekas tangan beliau. Maka hal ini kami ceritakan kepada Rasulullah SAW, mengenai makanan kami dan apa sebab beliau tidak mau menyentuh makanan kami sedikit pun Kata Beliau, "Aku dapatkan pada makanan ini bau bawang putih, di karenakan aku adalah seorang lelaki vang senantiasa berdzikir kepada Allah. maka aku tidak senang bila mulutku tercium bau yang tidak enak. Sedangkan untuk kalian maka silahkan kalian memakannya."
(Kanzul Ummal. 5/50)
Ketika pagi hari tiba maka ia berkata kepada Nabi SAW "Wahai Rasulullah, saya baru tersadar bahwa saya berada diatasmu Dan engkau berada di bawahku. sehingga saya takut bergerak yang menyebabkan jatuhnya debu-debu kepadamu Dan saya pun berada di antara engkau dan wahyu." Jawab Nabi SAW, "Wahai Abu Ayyub jangan kamu berlebihan, maukah aku ajarkan kepadamu suatu ucapan yang jika kamu mengucapkannya setiap pagi dan sore, sebanyak sepuluh kali. maka Allah akan memberikan sepuluh kebaikan. menghapuskan sepuluh dosa dan mengangkatmu sepuluh derajat dan kelak padi hari Kiamat engkau akan digolongkan sebagai seorang yang telah mcmbebaskan sepuluh budak. Ucapan itu ialah:
Laa ilaaha illallaahu wahdahulaa syarikalahu ...
(Thabrani, Kanzul Ummal, 1/294)
Dari Abu Ayyub katanya,"Ketika beliau tinggal di rumahku maka aku berkata kepadanya, "Demi ayah dan ibuku, sesungguhnya daku merasa tidak enak jika tinggal di atasmu dan engkau berada di bawahku." Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya lebih mudah bagi kami untuk tinggal di bawah saja, agar memudahkan kami ketika menerima tamu." (Thabrani)
Suatu ketika tempat airku pecah maka airnya tumpah ke lantai. maka aku bersama istriku (Ummu Ayyub) segera mengeringkanya dengan kain milik kami padahal kami tidak memiliki lagi selimut lain kecuali itu. dengan perasaan takut dan khawatir air tersebut akan mengenai beliau dan menyusahkannva. Dan setiap hari kami menghidangkan makanan bagi Rasulullah SAW dan jika ada sisa dari makanan tersebut maka kami makan pada bagian bekas-bekas tangan Rasulullah SAW agar kami mendapat berkat dengan hal itu.
Pada suatu malam ketika kami hidangkan makan malam. kami bubuhkan di dalam masakan tersebut bawang. Beliau mengembalikannya kepada kami. Dan kami melihat tidak ada sedikit pun bekas tangan beliau. Maka hal ini kami ceritakan kepada Rasulullah SAW, mengenai makanan kami dan apa sebab beliau tidak mau menyentuh makanan kami sedikit pun Kata Beliau, "Aku dapatkan pada makanan ini bau bawang putih, di karenakan aku adalah seorang lelaki vang senantiasa berdzikir kepada Allah. maka aku tidak senang bila mulutku tercium bau yang tidak enak. Sedangkan untuk kalian maka silahkan kalian memakannya."
(Kanzul Ummal. 5/50)
Pesanan Lukmanul Hakim kepada anak-anaknya.
Suatu ketika, Lukmanul Hakim telah berpesan kepada anak-anaknya. Kata sahabat Nabi yang alim dan bijak berfalsafah itu..
1. Wahai anakku, ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam. Jika engkau ingin selamat, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama takwa, isinya ialah iman dan layarnya adalah tawakal kepada Allah.
2. Wahai anakku, orang yang berasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat serta taat kepada Allah, maka dia itu orang yang tawaduk, lebih dekat kepada Allah dan selalu berusaha menghindarkan maksiat.
3. Wahai anakku, seandainya ibu bapamu marah kepadamu kerana kesilapan yang dilakukanmu, maka marahmya ibu-bapamu itu adalah bagaikan baja untuk tanam-tanaman.
4. Wahai anakku, ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya itu lebih mudah daripada mengajar orang yang tidak mahu diajar.
5. Wahai anakku, apabila engkau mempunyai dua pilihan, menziarahi orang mati atau hadir ke majlis perkahwinan, pilihlah untuk menziarahi orang mati kerana ia akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedangkan
1. Wahai anakku, ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam. Jika engkau ingin selamat, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama takwa, isinya ialah iman dan layarnya adalah tawakal kepada Allah.
2. Wahai anakku, orang yang berasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat serta taat kepada Allah, maka dia itu orang yang tawaduk, lebih dekat kepada Allah dan selalu berusaha menghindarkan maksiat.
3. Wahai anakku, seandainya ibu bapamu marah kepadamu kerana kesilapan yang dilakukanmu, maka marahmya ibu-bapamu itu adalah bagaikan baja untuk tanam-tanaman.
4. Wahai anakku, ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya itu lebih mudah daripada mengajar orang yang tidak mahu diajar.
5. Wahai anakku, apabila engkau mempunyai dua pilihan, menziarahi orang mati atau hadir ke majlis perkahwinan, pilihlah untuk menziarahi orang mati kerana ia akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedangkan
Kisah Tasbih Fathimah R.ha (baca : rodhiallahu ‘anha)
Ali r.a (baca : rodhiallahu ‘anhu) berkata kepada murid-muridnya, “
Maukah aku ceritakan kepada kalian mengenai Fathimah r.ha, putri
Rasulullah SAW(baca : shalallahu 'alaihi wassallam) yang sangat beliau
cintai?” Murid-muridnya berkata, “Tentu.” Ali r.a pun bercerita,
“Dengan tangannya, Fathimah r.ha menggiling gandum sehingga timbul
kapalan di tangannya. Ia mengisi tempatnya air sendiri dan bekasnya
terlihat di dadanya. Ia juga menyapu seluruh bagian rumah sehingga
bajunya kotor dan kumal. Suatu ketika, Rasulullah SAW mendapatkan
beberapa hamba sahaya wanita. Aku berkata kepada Fathimah, "Pergilah
kepada Rasulullah dan mintalah pembantu kepada beliau agar dapat
meringankan pekerjaanmu.“ Fathimah r.ha. pun datang ke majelis
Rasulullah SAW. Karena saat itu banyak orang, ia malu menyampaikan
maksudnya. Akhirnya, ia kembali ke rumah. Keesokan harinya, Rasulullah
SAW mengunjugi rumah kami dan berkata kepada Fathimah r.ha., “Wahai
Fathimah, apakah maksudmu engkau kemarin datang kepadaku?“ Karena malu
Fathimah r.ha diam saja. Aku berkata“ Ya Rasulullah, ia menggiling
gandum setiap hari sehingga timbul kapalan ditangannya, dan ia mengisi
air hingga berbekas di dadanya, ia juga selalu membersihkan rumah
sehingga kumal dan kotor bajunya, maka kemarin aku suruh ia mendatangi
engkau untuk meminta seorang pelayan, karena aku dengar ada beberapa
hamba sahaya padamu.“
Dalam riwayat lain, Fathimah r.ha berkata kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah, aku dan Ali hanya memiliki kasur dari kulit kambing. Pada malam hari kami gunakan untuk tidur dan pada siang hari kami gunakan untuk tempat rumput makanan unta.”
Rasulullah SAW bersabda, “ WAhai anakku, bersabarlah. Selama sepuluh tahun Musa a.s. (baca : 'alaihissalam) dan istrinya hanya tidur diatas satu alas tidur, yaitu hamparan mantel Musa a.s. Bertakwalah kepada Allah dan tetaplah menyempurkan kewajibanmu dan pekerjaan rumahmu. Ketika kamu berbaringtidur, bacalah : Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali, ini lebih baik daripada seorang pembantu.” Fathimah r.ha berkata, “Aku rela dengan keputusan Allah dan Rasul-Nya.“ (Abu Dawud)
Dalam riwayat lain, Fathimah r.ha berkata kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah, aku dan Ali hanya memiliki kasur dari kulit kambing. Pada malam hari kami gunakan untuk tidur dan pada siang hari kami gunakan untuk tempat rumput makanan unta.”
Rasulullah SAW bersabda, “ WAhai anakku, bersabarlah. Selama sepuluh tahun Musa a.s. (baca : 'alaihissalam) dan istrinya hanya tidur diatas satu alas tidur, yaitu hamparan mantel Musa a.s. Bertakwalah kepada Allah dan tetaplah menyempurkan kewajibanmu dan pekerjaan rumahmu. Ketika kamu berbaringtidur, bacalah : Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali, ini lebih baik daripada seorang pembantu.” Fathimah r.ha berkata, “Aku rela dengan keputusan Allah dan Rasul-Nya.“ (Abu Dawud)
Mereka itu Berjalan Kaki di Atas Permukaan Bumi
Al-Baihaqiyy dan An-Naqoosy telah mentakhrijkan di dalam mu'jamnya dan
Ibn An-Najjaar daripada Waaqid bin Salaamah daripada Yaziid
Ar-Riqoosyiyy dari Anas ra. Bahawa Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa
sallaam telah bersabda (mafhuumnya) :
Sudikah aku kabarkan kepada kalian akan qaum-qaum yang mana mereka itu adalah bukan para anbiyaa` dan buka pula para syuhadaa`, (walhal) pada hari qiyaamat (nanti) para anbiyaa` dan para syuhadaa` merasa ghibtoh (iri hati) terhadap mereka itu lantaran manaazil (status- status) mereka (begitu dekat) dengan Allah, di atas minbar-minbar daripada nuur mereka dikenali.
Lalu mereka (para Sahabat r.ahum) Bertanya : siapakah mereka itu wahai Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa sallaam? Baginda menjawab (mafhuumnya) : al-ladziina yuhabbibuuna `ibaadaloohi ilAllahi, wa yuhabbibuunAllaha ilaa `ibaadihi, wa yamsyuuna `alal-ardhi nushan; artinya: (yaitu) orang-orang yang menjadikan para hamba Allah dicintai oleh Allah SWT , dan menjadikan Allah SWT dicintai oleh para hambanya, dan mereka itu berjalan kaki di atas (permukaan) bumi dalam hal keadaan memberikan nasihat.
Maka aku berkata : ini menjadikan Allah SWT dicintai oleh para hambanya, maka bagaimanakah mereka menjadikan para hamba Allah SWT dicintai oleh Allah SWT ? Jawab baginda Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa sallaam (mafhuumnya) : mereka itu menyuruh para hamba Allah dengan apa yang Allah SWT suka dan mereka itu mencegah para hamba Allah SWT daripada apa yang Allah SWT benci, maka apabila para hamba Allah SWT itu mentho'ati mereka lalu Allah `azza wa jalla menyintai mereka itu (yakni para hamba Allah itu).
Hayaatush-Shohaabah, juzu` 3, halaman 288 dan 289.
Risalah Fikir (229)
Hadis riwayat Anas bin Malik ra. ia berkata, Nabi saw. bersabda, Tidak beriman seorang hamba (dalam hadis Abdul Warits, seorang laki-laki) hingga Aku lebih dicintainya daripada keluarga, hartanya, dan semua orang.
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 62
Hadis riwayat Anas bin Malik ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, Tanda kemunafikan adalah membenci sahabat Ansar dan tanda keimanan adalah mencintai sahabat Ansar.
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 108
Hadis riwayat Al Barra' ra. ia berkata, Nabi saw. bersabda tentang kaum Anshar, Yang mencintai mereka hanyalah orang yang beriman dan yang membenci mereka hanyalah orang munafik. Siapa yang mencintai mereka, maka Allah mencintainya, siap yang membenci mereka, maka Allah membencinya.
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 110
Hadis riwayat Abu Said Al Khudhri ra., Dari Tarek bin Syihab ra. ia berkata, Orang yang pertama berkhotbah pada hari raya sebelum salat Id, adalah Marwan. Ketika itu ada seorang berdiri mengatakan, salat Id itu sebelum khotbah! Marwan menjawab, telah ditinggalkan apa yang ada di sana. Abu Said berkata, Orang ini benar-benar telah melaksanakan kewajibannya, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran (hal yang keji, buruk), hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, itu adalah selemah-lemah iman.
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 70Posted by azharjaafar
Sudikah aku kabarkan kepada kalian akan qaum-qaum yang mana mereka itu adalah bukan para anbiyaa` dan buka pula para syuhadaa`, (walhal) pada hari qiyaamat (nanti) para anbiyaa` dan para syuhadaa` merasa ghibtoh (iri hati) terhadap mereka itu lantaran manaazil (status- status) mereka (begitu dekat) dengan Allah, di atas minbar-minbar daripada nuur mereka dikenali.
Lalu mereka (para Sahabat r.ahum) Bertanya : siapakah mereka itu wahai Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa sallaam? Baginda menjawab (mafhuumnya) : al-ladziina yuhabbibuuna `ibaadaloohi ilAllahi, wa yuhabbibuunAllaha ilaa `ibaadihi, wa yamsyuuna `alal-ardhi nushan; artinya: (yaitu) orang-orang yang menjadikan para hamba Allah dicintai oleh Allah SWT , dan menjadikan Allah SWT dicintai oleh para hambanya, dan mereka itu berjalan kaki di atas (permukaan) bumi dalam hal keadaan memberikan nasihat.
Maka aku berkata : ini menjadikan Allah SWT dicintai oleh para hambanya, maka bagaimanakah mereka menjadikan para hamba Allah SWT dicintai oleh Allah SWT ? Jawab baginda Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa sallaam (mafhuumnya) : mereka itu menyuruh para hamba Allah dengan apa yang Allah SWT suka dan mereka itu mencegah para hamba Allah SWT daripada apa yang Allah SWT benci, maka apabila para hamba Allah SWT itu mentho'ati mereka lalu Allah `azza wa jalla menyintai mereka itu (yakni para hamba Allah itu).
Hayaatush-Shohaabah, juzu` 3, halaman 288 dan 289.
Risalah Fikir (229)
Hadis riwayat Anas bin Malik ra. ia berkata, Nabi saw. bersabda, Tidak beriman seorang hamba (dalam hadis Abdul Warits, seorang laki-laki) hingga Aku lebih dicintainya daripada keluarga, hartanya, dan semua orang.
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 62
Hadis riwayat Anas bin Malik ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, Tanda kemunafikan adalah membenci sahabat Ansar dan tanda keimanan adalah mencintai sahabat Ansar.
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 108
Hadis riwayat Al Barra' ra. ia berkata, Nabi saw. bersabda tentang kaum Anshar, Yang mencintai mereka hanyalah orang yang beriman dan yang membenci mereka hanyalah orang munafik. Siapa yang mencintai mereka, maka Allah mencintainya, siap yang membenci mereka, maka Allah membencinya.
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 110
Hadis riwayat Abu Said Al Khudhri ra., Dari Tarek bin Syihab ra. ia berkata, Orang yang pertama berkhotbah pada hari raya sebelum salat Id, adalah Marwan. Ketika itu ada seorang berdiri mengatakan, salat Id itu sebelum khotbah! Marwan menjawab, telah ditinggalkan apa yang ada di sana. Abu Said berkata, Orang ini benar-benar telah melaksanakan kewajibannya, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran (hal yang keji, buruk), hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, itu adalah selemah-lemah iman.
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 70Posted by azharjaafar
Pesan Abu Bakar ra. sebelum Mengirim Pasukan Jihad
Baihaqi dan Ibnu Asakir telah memberitakan dari Said bin Al-Musaiyib,
bahwa Khalifah Abu Bakar ra. pernah mengutus pasukan Islam ke Syam, dan
menyerahkan kepemimpinan pasukan itu di tangan Yazid bin Abu Sufyan ra,
Amru bin Al-Ash ra. dan Syurahbil bin Hasanah ra. Mereka pun menunggang
kuda masing-masing untuk berangkat, namun Abu Bakar ra. tetap berjalan
kaki untuk melepas pasukan itu hingga ke Tsaniyatil-Wadak. Maka para
panglima Islam itu berkata kepada Khalifah Abu Bakar ra.: "Wahai
Khalifah Rasulullah! Tidak enak rasanya, engkau berjalan kaki sedangkan
kami menunggang kuda?!" "Jangan turun dari atas tunggangan kalian",
jawab Khalifah Abu Bakar. "Aku menganggap langkah-langkah ini dari
berjuang pada jalan Allah!".
Sambil berjalan kaki, Khalifah mengingatkan pasukan itu, katanya: Aku berpesan kepada kamu supaya bertaqwa kepada Allah. Berjuanglah pada jalan Allah, dan perangilah siapa yang mengkufuri Allah, kerana Allah senantiasa akan memenangkan agamaNya!
Sambil berjalan kaki, Khalifah mengingatkan pasukan itu, katanya: Aku berpesan kepada kamu supaya bertaqwa kepada Allah. Berjuanglah pada jalan Allah, dan perangilah siapa yang mengkufuri Allah, kerana Allah senantiasa akan memenangkan agamaNya!
Menginfakkan Harta dalam Jihad Fii Sabilillaah
Muslim telah mengeluarkan dari Abu Mas'ud Al-Anshari ra. dia berkata:
Sekali peristiwa telah datang kepada Nabi SAW seorang lelaki menarik
seekor unta yang terikat tali di hidungnya, Ialu menyerahkannya kepada
beliau, katanya: Ini untuk sabilillah! Maka berkata Rasulullah SAW:
Gantinya nanti di hari kiamat 700 ekor unta semuanya dengan bertali di
hidungnya. (Shahih Muslim 2:37; jam'ul Fawa'id 2:3)
Imam Ahmad telah mengeluarkan dari
Imam Ahmad telah mengeluarkan dari
Langganan:
Postingan (Atom)
belajar, bekarya, berbagi bagi semua hanya itu yang aku bisa
untuk meraih mimpi menggapai menjadi diri sendiri
sebuah Inspirasi yang tertunda
aspirasi lama yang menguat dan telah hilang mencoba untuk di angkat kembali
