Mungkin cerita ini sudah banyak yang tau, tapi tidak ada
salahnya bila di bagikan di sini karena sangat inspiratif sekali, untuk
mengingatkan kita dan menambah kasih sayang kita kepada anak anak kita.
Seperti
biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkenal
terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.
Tidak seperti biasanya, Imron putra pertamanya yang baru duduk di kelas 2 SD membukakan pintu.
Ia nampaknya cukup lama menunggu.
“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya.
Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.
Sambil
membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imran menjawab, “Aku
menunggu ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa gaji Ayah?”
“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi ya?”
tanya Rudi. “Ah, enggak. Pengen tahu aja yah”
“Oke, kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar
10 jam dan dibayar Rp 400.000
Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya,
Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun
Islam yang kelima.
Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan
ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka
memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.
Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini
akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak
kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan
niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik
allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”.
Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu,
lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna
hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia
terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan
oleh anaknya.
Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah
ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti
mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia
mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.
Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit
yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki
Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak
yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon
ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah,
mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan
segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.
Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang
sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan
menatap Ka’bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kmebali membawa
ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak
kepadanya.
Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali
dibutakan di dekat Ka’bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang
merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat
Ka’bah.
Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci
tahun berikutnya.
Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada
di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap.
Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu
berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.
Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya
menjadi buta di depan Ka’bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka’bah,
penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya
kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah
diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala
pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk
mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.
Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal
karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Tanpa
kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud.
